Duka Andalas
Oktober 5, 2009
rabu di hari senja
jauh di perut bumi sana
Allah Tuhan Maha Esa menggeser tanah kita
manusia penghuni pantai barat sumatera barat
sontak di ujung nyawa
taku, lari, tunggang langgang tiada arah
yang beruntung kakinya dituntun Maha Kuasa menemukan jalan… umurnya masih ada
ribuan orang meregang nyawa
seolah waktu hanya sekejap tuk menemukan jalan selamat
bumi runtuh, atap jatuh, tubuh terjerembab, terjepit, terhimpit, maut pun menjemput
berasal dari sang pencipta dan kembali kepada-Nya
banyak… orang sekitarnya
memang masih hidup, tapi ada yang patah, luka, pecah
Kisah Mengharukan Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya
Juni 30, 2009
Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil1.jpg, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Read the rest of this entry »
Ayah
Maret 29, 2009
akhirnya guwe nulis lagi deh…
abis, kaeknye nulis status doang di FaceBook kaga puas.

My Dad
eniwey, pagi ini guwe dimarahin gara2 telat bangun tidur. guwe baru bangun tidur ituh jam 7pagi.
yup, bokap guwe tipikal orang yang tidak menyukai orang yg masih tidur ketika saatnya bangun. jadi ga masalah lw baru tidur jam berapapun, kalo udah subuh yah musti bangun tidur.
aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh….
sebenernya guwe kaga masalah di bagian dimarahinnya ituh. tapi yg jadi suatu hal annoying di kepala guwe adalah “doa” yang di ucapkan oleh bokap guwe.
bokap : “kalian kog bangun tidur telat sekali sih, nanti jauh rejeki loh.” Read the rest of this entry »
ESENSI DIRI
Maret 12, 2009
Alkisah di suatu desa, ada kabar yang menggembirakan. Orang-orang di desa itu gembira mendengar bahwa putra sulung sang kepala desa akhirnya akan pulang ke desanya setelah meraih gelar sebagai seorang dokter. Rencananya, ia pulang untuk mencari istri alias pendamping hidupnya.
Mendengar si putra sulung kepala desa akan mencari seorang calon istri, Orang-orang di desa sibuk memikirkan putri siapa yang pantas disandingkan dengan putra sulung kepala desa. Ketika berkumpul di aula desa, diputuskanlah bahwa ada 3 orang gadis yang menurut mereka paling sesuai disandingkan dengan putra sulung kepala desa. Read the rest of this entry »
Jangan Membentak Anak !! (kaskus lagi duong)
Maret 4, 2009

“Bid…ayo mandi! Disuruh mandi saja kok malas amat!” bentak ibu Abid (7) seraya menyeret paksa anaknya yang sedang asyik bermain.
“Fatma…jangan dekati kompor itu! Bahaya, tahu!” Bentak ayah Fatma yang memergoki putrinya (2) sedang mengutak-atik kompor minyak.
Ketika bocah kecil itu menangis mendengar bentakan ayahnya, sang ayah malah kembali membentak, “Heh…diam!” Si kecil pun semakin ketakutan. Read the rest of this entry »
PERBEDAAN PERSEPSI
Januari 27, 2009
Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang istri berpesan dua hal kepada 2 anak laki-lakinya:

the old man
- Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya, sedangkan yang bungsu menjadi semakin miskin.
Pada suatu hari sang ibu menanyakan hal itu kepada mereka. Read the rest of this entry »
Inipun Akan Berlalu
Juni 27, 2008
Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya. Setelah harta terbagi, masih tertingal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka.
Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah. Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, “Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu.”
Sang adik tersenyum dan berkata, “Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu.” Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah. Sang adik merenung, “Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?” Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: INI PUN AKAN BERLALU. “Oh, rupanya ini mantra ayah…,” gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.
Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.
Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan. Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.




















