RSS

Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku (artikel orang)

13 Jan

 

polisi

polisi

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju. 

 

Prit!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. 
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. 
Hati Jono agak lega. 
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. 
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!” 
“Hai, Jon.” Tanpa senyum. 
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. 
Istri saya sedang menunggu di rumah.” 
“Oh ya?” 
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. 

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.” 
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.” 

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi. 

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. 

“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.” 

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit. 
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi. 

“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini.. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. . (Salam, Bobi)”. 

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… …. 

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive & Ride Safely Guys..

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2009 in internet

 

8 responses to “Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku (artikel orang)

  1. hamka

    Januari 13, 2009 at 2:52 pm

    pertamax

     
  2. hamka

    Januari 13, 2009 at 2:55 pm

    artikel yang lucu wakakakakak

     
  3. Rian Xavier

    Januari 13, 2009 at 8:04 pm

    mau informasi nih. Blog saya sudah pindah dari wordpress ke blog baru d-revoz.com. jangan lupa kunjung yach. (^_^)

    NB : Blogrollnya juga diganti ya. Hehehee.

     
    • nyurian

      Januari 22, 2009 at 5:13 pm

      iyaaahhhh…
      link balik tapi yah…

       
  4. diazhandsome

    Januari 13, 2009 at 9:50 pm

    kadang emang sering kelewat asik orang” sehingga tidak ada kata untuk tidak ngebut… sehingga, pas lampu nyala merah, susah di-rem deh… nah, gimana dong? jaga jarak, jaga kecepatan, perhatikan kecepatan, gak ugal”an bisa me-minimalkan angka kecelakaan…

    oke, pasti lu nanya ‘kenapa gw jadi kayak gini?’. Well, gw sangat sedih sekali ngeliat sopir” di Indonesia macam angkot semua. ngiri ngeliat luar negeri yang jalannya pelan tapi pasti…

    salam dari pemerhati jalan raya…

     
  5. sandi

    Januari 14, 2009 at 5:03 am

    Busyet, tulisannya menyentuh banget. Iya gue juga gak setuju dengan berbagai macam alasan orang untuk ngebut, karena keselamatan tetaplah yang terpenting. Iya kecuali keadaan darurat seperti orang yang harus segera mendapatkan perawatan medis. Lain dari itu, utamakanlah KESELAMATAN!

    Blogmu dah ku link. Link balik ya. Thanx

     
    • nyurian

      Januari 22, 2009 at 5:12 pm

      ok,segera di balas.
      biar tuhan yang balas.
      wkwkwkwkwkwkwk

       
  6. tdavidnp

    Januari 14, 2009 at 5:01 pm

    benar sekali artikel ini, terkadang kita cuma memiliki sudut pandang dari sisi kita pribadi, tanpa memandang dari sisi orang lain

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: