RSS

Berhentilah jadi gelas

28 Sep

gelasDikisahkan, ada seorang guru sufi yang mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung..

sang guru : “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?”

si murid : “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya”.

sang guru : (terkekeh). “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

sang guru : “Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, setelah itu coba kau minum airnya sedikit”.

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

sang guru : “Bagaimana rasanya?”

si murid : (dengan wajah yang masih meringis). “Asin, dan perutku jadi mual”.

sang guru : (terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan). “Sekarang kau ikut aku.”

Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid pun menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

sang guru : (sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau). “Sekarang, coba kau minum air danau itu!”

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya,

sang guru : “Bagaimana rasanya?”

si murid : “Segar, segar sekali”, (sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya).

Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

sang guru : “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

si murid : “Tidak sama sekali”. (sambil mengambil air dan meminumnya lagi).

Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

sang guru : “Nak”, “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih,
hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid pun terdiam???, mendengarkan…

sang guru : Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas!. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau!”

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2009 in internet

 

Tag: , , , , , , ,

18 responses to “Berhentilah jadi gelas

  1. websmaster,info

    September 29, 2009 at 4:34 am

    aku datang cuma sekedar numpang baca dan bertegur sapa aja sob
    salam kenal

     
  2. masedlolur

    September 29, 2009 at 7:57 am

    jalan-jalan, mampir, salam kenal

     
  3. Iklan Gratis

    September 29, 2009 at 10:34 am

    cerita yang sangat bagus, yang sangat mendidik, dan cerita yang memberikan pencerahan hati. hehe..
    terima kasih saya senang membacanya. memang iya, semua masalah memang begitu, tinggal hati orang yang mempunyai masalah itu sendiri.
    salam sukses selalu…
    Iklan Gratis

     
  4. diazhandsome

    September 29, 2009 at 5:23 pm

    bagus banget ceritanya. dapet dari mana sih?

     
  5. marsini

    September 29, 2009 at 9:03 pm

    Cerita pendek, namun punya makna yang dalam..
    Yukk berproses menjadikah hati seluas danau, kalau perlu seluas lautan.
    .
    biar garamnya gak berasa asam🙂

     
  6. icha182

    September 30, 2009 at 8:43 pm

    icha182 Likes this!

     
  7. Agus Suhanto

    Oktober 2, 2009 at 7:19 am

    nuhun e atas postingnya yang menarik… kenalkan sy Agus Suhanto

     
  8. lina

    Oktober 2, 2009 at 8:41 am

    Rian, tau khan film Xena The Warrior Princess?? saya suka banget film ini… xena punya sahabat “Gabriele” gadis desa yang jago kelahi juga, senjata andalannya Tongkat…mungkin Rian dah tau…

    Masih ada hubungannya dengan luasnya danau dan masalah……

    Xena pernah bicara kepada Gabriele, begini :

    hati kita ibarat sebuah danau dan masalah yang kita hadapi adalah sebuah batu. Ketika masalah datang kedalam hidup kita, maka masalah itu laksana sebongkah batu yang dilemparkan kedalam danau, hempasan batu akan membuat permukaan danau bergelombang, besar gelombang akan sesuai dengan besarnya batu, kemudian seiring waktu gelombang pelan-pelan akan mereda dan akhirnya hanya menjadi riak-riak kecil dan akhirnya permukaan danau pun akan tenang kembali. Begitulah hati kita ketika menghadapi masalah🙂 perlu waktu untuk menerimanya.

    Tetapi masih ada lanjutannya, kata Xena : walaupun permukaan danau telah tenang kembali, tak ada sedikit pun riak terlihat, tetapi sang batu masih ada didasar danau…..

    Semoga kita memiliki hati seluas danau atau seluas samudera jika perlu

    Nice post Rian…🙂

     
  9. sunarnosahlan

    Oktober 4, 2009 at 8:57 am

    alangkah indahnya jika sudut pandang kita tidak hanya sesempit gelas, bahwa di luar sana ada danau yang jauh lebih luas, sejumput garam tak terasa asinnya.
    Sekadar menyapa sobat, salam

     
  10. Risma Bayu Putra

    Oktober 9, 2009 at 2:05 pm

    Ribet banget mikirnya, materi ini masih tataran filosofi, solusinya adalah “HADAPI & SELESAIKAN”, karena “TIDAK ADA MASALAH YG TIDAK ADA SOLUSINYA”, ini sudah ketentuan ALLAH SWT,ALLAH SWT, tidak akan menimpakan masalah melebihi kemampuan umatnya, mau sebesar apa danaunya, kl tidak dihadapi dan diselesaikan masalahnya, gak ada artinya.. masalah akan terus mengendap..lama2 menjadi masalah besar…”DANAU YANG BESAR DISIAPKAN UNTUK MENGHADAPI & MENYELESAIKAN MASALAH” ini lebih tepat..

     
  11. komuter

    Oktober 16, 2009 at 10:41 am

    asal jangan dicemari danaunya……..
    *lama tidak saling berkunjung

     
  12. Indoproperty bsd

    November 1, 2009 at 5:22 pm

    kalau air danau kayak di jakarta,tuh anaknya bakal kena muntaber…

    nice artikel, memberi insprasi baru..
    thnx

     
  13. irwan fahmy

    November 11, 2009 at 6:50 am

    untuk menjadi danau
    yang lapang menempatkan air garam
    tidak akan semudah membalikkan telapak tangan
    tapi juga bukan merupakan hal yang tidak mungkin untuk diraih dan didapatkan .

     
  14. Datyo

    November 13, 2009 at 8:33 am

    Bagus sekali mas, minta ijin saya kutip ya…terima kasih

     
  15. 5 SEO Tips for Online Retailers

    November 15, 2009 at 4:35 pm

    kalau air danau kayak di jakarta,tuh anaknya bakal kena muntaber…

    nice artikel, memberi insprasi baru..
    thnx

     
  16. nyurian

    November 22, 2009 at 6:33 pm

    air air air, ooohhh air…

     
  17. dokterpenulis

    November 30, 2009 at 12:18 am

    nice artikel mas…

     
  18. Hanif Ilham M

    Desember 29, 2009 at 9:56 pm

    mantab… inspirasi banget nih… besarkan hati untuk setiap masalah yang dihadapi…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: