RSS

Arsip Tag: handphone

Medan

Dalam perjalanan ke medan bwat menyambut lebaaran taon ini, ada hal uniq yg gw liat di ade gw.
PHONEBOOK.
Kata ade gw ida, dya mindahin ponbuk yg di soner ke nokia satu persatu mumpung yg soner belon abis batre. Yg lebih lucu lagi, ade gw dini mengatakan henponnya lagi di serpis. Jadi dya cuman bawa simkard ama list temen di tulis tangan di buku sampe 4lembar bolak balik. Sangat analog bukan. Gw bilangin ajah, alesannya bilang ajah cinta lingkungan. Jadi kalo maw liat nomor telepon ga perlu pake listrik. Wkwkwkwkwk…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2009 in By Me

 

Tag: , , , , , , ,

4 Skenario

Skenario 1

Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita. “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,”kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.. Read the rest of this entry »

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 8, 2009 in internet

 

Tag: , , , ,

Inbox and Outbox

00

S01E16-17:00

S01E16-(16:57) Blair Waldorf :
It was once said that a person’s eyes are windows into their soul. That was before people had cell phones“.

I’ve been watching GossipGirl lately. I got the whole first season from Indonesia’s-youtube-look-alike. The most memorable quotes that I remember are like what it said on the top of this writing.

Long time ago, people used to look into someone’s soul just by looking at the eyes. I believe that require enormous knowledge for years. It’s some kind of psychological I think. But that was so long time ago, before people had cell phones. Inbox and Outbox is something that you could call “windows into your soul”. Just by looking into it, we may conclude what kind of person he/she is. Inbox is representing the inputs that come in into someone, while Outbox is representing the outputs that come out from someone.

Aahhh… ribet banget guwe mao bikin tulisan dalam bahasa inggris. Ude ngetik sejam. Yg jadi cuman 2 paragraf kayak di atas. Jadinya juga ngaco. OK-lah, ceritanya guwe ulang.

Guwe abis nonton Gossip Girl season 1. guwe dapet keseluruhan film ini dari youtube-nya Indonesia yang terkenal dengan kata IDWS. Aselinya guwe males banget nonton ini pilem. Secara guwe ude lama banget donlut, tapi entah kenapa guwe belon pengen niat nonton. Sampe akhirnya Dudi nanyain soal pilem yg ude guwe donlut itu. Katanya bagus banget itu pilem. Karena guwe bilang belon nonton, kita ga jadi ngobrol soal pilem itu deh.
Ternyata setelah guwe nonton ini pilem, rada puas juga siy. Ceritanya asik. Dan quote di atas itu paling teringet di kepala guwe. Kira-kira bunyinya begini “Dahulu kala dikatakan bahwa mata seseorang adalah jendela menuju jiwa mereka, itu semua benar sebelum jamannya pengggunaan Handphone”

Guwe yakin banget kalo jaman dulu orang bisa terlihat sampai ke jiwanya hanya dengan melihat matanya. Walopun itu membutuhkan “kekuatan psikologi” yang memang terasah selama tahunan. Tapi dengan adanya jaman Handphone, Inbox dan Outbox adalah sesuatu yang bias dikatakan sebagai “jendela menuju jiwa seseorang”. Inbox merupakan input yang didapatkan dari luar, sedangkan outbox adalah output yang dikirimkan oleh seseorang. Inbox memperlihatkan seluruh cerita kehidupan yang menghampiri seseorang, Outbox memperlihatkan reaksi seseorang tersebut terhadap kehidupan.

Temen guwe ada yang bilang “maenan paling enak di dunia itu adalah INBOX”. Katanya”enak aja, ngeliatin dunia pribadi seseorang”. Sedangkan temen guwe yang lain ada yang sangat menghargai privasi handphone-nya, sampai orang laen ga ada seorang pun yang boleh memegang handphone-nya.

Tapi, ketika dihadapkan dengan suatu hubungan. Bukankah keterbuakaaan itu adalah segalanya. Kenapa sepasang kekasih masih saja ada yang enggan “terlihat” handphonenya? Masih saja dengan tamengnya berkata “khan lagi bareng guwe, ngapain siy maenin handphone”. AAARRRGGGHHH…

Mari Kita Junjung Era Keterbukaan. (*pain lough)

 
19 Komentar

Ditulis oleh pada September 2, 2008 in By Me

 

Tag: , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: